90% kunjungan anggota DPR ke luar negeri tidak bermanfaat.
Ini bukanlah rahasia negara, ini hanya fakta yang sudah diketahui masyarakat umum. Sudah berkali-kali PPI di Eropa menolak kunjungan DPR di musim panas saat lembaga negara Eropa sedang reses. Dari 143 kunjungan ke luar negeri hanya ada 3 laporan kunjungan yang dibuat,
Kalau laporan saja tidak ada, jangan harap ada hasil yang nyata. Kalau dibuat prosentase hanya 3% yang bermanfaat karena paling tidak menghasilkan laporan; sementara yang 97% sisanya tidak ada gunanya. Ketika fakta ini diungkapkan kembali secara terang-terangan oleh dubes Swiss Djoko Susilo, timbul masalah.
Bang Djuki, menganggap bahwa Djoko yang “jauh di bawah levelnya, dan ngga tahu persis DPR kerja DPR apa saja” (tapi lebih tahu DPR jalan-jalan ke mana saja), perlu ditindak karena sudah dianggap melecehkan DPR.
Priyo Budi Santoso, langsung terbuka matanya bahwa kedutaan besar Indonesia di luar negeri tidak “berbunyi” sehingga dianggap tidak bermanfaat. Bahkan ada ancaman, kalau duta besar lain di Eropa sependapat dengan Djoko Susilo DPR akan mengkaji seluruh duta besar tersebut.
Menurut saya masalahnya bukanlah karena fakta yang diungkapkan Djoko Susilo ini tidak akurat. Tapi masalah utamanya adalah karena objek yang dikritik, seperti kata almarhum Gus Dur, masih belum bisa bersikap lebih dewasa dari anak-anak TK.
Anak-anak TK, sudah mulai menyadari bahwa mereka tidak selalu benar. Bahwa ketika mereka dikritik dan diberitahu tentang kesalahannya, mereka lebih baik mencoba memperbaiki diri daripada mengancam balik, melepas tantrum dan murka mengancam semua yang mengritik mereka.
Bagaimana tidak seperti anak TK, diingatkan bahwa studi banding DPR sebagian besar tidak ada gunanya dan hanya merupakan pemborosan, malah mengancam balik dubes-dubes di Eropa. Runyam kalau begini terus, kira-kira kapan ya bisa punya anggota DPR yang lebih baik dari segerombolan anak TK ?
Discussion
No comments yet.